• Skip to main content

interstellar

occurring or situated between stars.

June 4, 2026 by interstellar |

Kapan terakhir kali kita benar-benar memikirkan arti sebuah negeri?

Apakah sebuah negeri hanya sebatas garis-garis di peta yang digambar dengan tinta tebal oleh para kartografer, ataukah ia sebenarnya hidup dalam ingatan orang-orang yang lahir, tumbuh, dan diam-diam berharap sesuatu yang lebih baik dari tanah tempat mereka berdiri?

Dan jika sebuah negeri memang hidup dalam ingatan, lalu pertanyaan yang lebih sulit muncul dengan sendirinya: ingatan seperti apa yang sedang kita pelihara tentang Indonesia hari ini?

Aku sering memikirkan pertanyaan-pertanyaan itu sejak kecil, mungkin karena rumah tempat aku dibesarkan tidak pernah benar-benar jauh dari sejarah. Ayahku ialah sesosok yang terlalu mencintai masa lalu sehingga tak pernah sekadar mengajarkannya sebagai kumpulan tanggal dan peristiwa. Baginya, sejarah adalah percakapan panjang antara manusia dengan waktu; percakapan yang kadang penuh harapan, ataupun kadang pula dipenuhi dengan kegelisahan.

“Coba bayangkan,” katanya suatu malam, ditemani gemerisik orkestra jangkrik dan kawanannya, “bagaimana rasanya hidup di masa ketika kata Indonesia bahkan belum menjadi kepastian.”

Aku masih terlalu muda saat itu untuk benar-benar memahami maksudnya. Namun pertanyaan itu terus tinggal di kepalaku bertahun-tahun kemudian. Bagaimana rasanya hidup di masa ketika negeri ini masih berupa gagasan? Ketika para pemuda yang menulis tentang kemerdekaan belum tahu apakah mereka masih dapat hidup cukup lama untuk melihatnya terwujud?

Apakah mereka merasa takut? Atau justru merasa begitu optimis hingga rasa takut menjadi tidak penting?

Kadang aku membayangkan mereka berjalan di jalan-jalan kota yang masih dikuasai penjajah, berbicara tentang masa depan dengan suara yang ditahan, sambil bertanya dalam hati: apakah negeri yang kita impikan benar-benar akan lahir suatu hari nanti?

Dan jika negeri itu akhirnya lahir- seperti yang kita rayakan setiap tahun dengan upacara dan bendera, pertanyaan lain yang lebih sunyi muncul perlahan; apakah kita sudah benar-benar memahami apa yang mereka perjuangkan?

Apakah nasionalisme hanya sekadar perasaan bangga yang muncul setiap bulan Agustus, ketika lagu-lagu perjuangan diputar lebih keras dari biasanya? Atau sebenarnya ia sesuatu yang lebih njlimet, namun juga ‘dalam’, sesuatu yang menuntut kita untuk terus bertanya tentang arah perjalanan bangsa ini.

Sebab mencintai sebuah negeri, seperti mencintai seseorang, tidak pernah sesederhana mengagumi sisi-sisinya yang indah. Ia juga berarti bersedia melihat luka-lukanya, memahami kekurangannya, dan tetap memilih untuk tidak berpaling ketika keadaan menjadi amat sulit.

Indonesia, bagiku, selalu terasa seperti pertanyaan yang belum selesai dijawab.

Negeri ini terlalu luas untuk dipahami hanya dari satu sudut pandang, terlalu beragam untuk disederhanakan menjadi suatu epik tunggal. Di dalamnya ada jutaan kehidupan yang berjalan bersamaan; petani yang menunggu curahan musim penghujan, mahasiswa yang memperdebatkan masa depan demokrasi, dan anak-anak sekolah yang setiap paginya menghafal nama pahlawan tanpa benar-benar mengenal kisah hidup mereka.

Lalu di tengah semua kehidupan itu, kita pun diam-diam menjadi bagian dari cerita yang sama.

Tetapi dengan pertanyaan yang tetap sama: di antara begitu banyak orang yang menyebut dirinya warga negeri ini, berapa banyak yang benar-benar masih bertanya tentang makna Indonesia?

Dan mungkin dari sinilah kisah ini harus dimulai; dari sebuah kegelisahan yang sederhana namun terus kembali: bahwa sebuah bangsa hanya akan tetap hidup selama masih ada orang orang yang cukup peduli untuk mempertanyakan arah perjalanannya.uhuyy

Filed Under: Rayya